Ini adalah cerita tentang seorang laki-laki yang
hidupnya merasa hancur oleh seseuatu yang mungkin orang menganggapnya hal
sepele. Tapi tidak bagi dia, ini adalah masalah yang begitu berat baginya.
Beberapa tahun kebelakang, dia pernah menjalani
kehidupan asmara dengan seorang wanita, tepatnya lima tahun yang lalu saat dia
masih duduk di bangku SMA kelas 3. Dia dengan wanitannya telah melakukan ikrar
janji untuk menjalani hunbungan asmara mereka
hingga mereka menikah nanti. Mereka berjanji untuk saling percaya.
Mungkin sebagian menganggapnya itu cuma cinta-cintaan anak SMA saja. Tapi tidak
bagi laki-laki itu. Bagi dia janji bukanlah hal yang sepele, dia selalu
menghargai yang namanya janji.
Beberapa bulan hubungan itu berjalan dengan baik. Tapi
masalah di mulai saat sebulan mau melaksakan ujian nasional. Wanita itu mulai
sedikit berubah, dia sudah jarang sekali membri kabar atau membalas chat
sekalipun. Pria itu mulai gelisah, lalu dia berniat untuk menemuinya dan pergi
ke rumah wanita itu.
Setelah bertemu dan menannyakan masalahnya apa, wanita
itu menjawab dia ingin fokus belajar untuk menghadapi ujian nanti, mungkin itu
adalah alasan klasik yang selalu terdengar dari para remaja asmara, namun pria
itu berusaha untuk mengerti dan mempercayainya, dan dia memberi ruang untuk
wanita itu.
Seminggu kemudian ujian telah berlalu, namun pria itu
tidak pernah mendapat kabar lagi dari wanitanya. Beberapa kali di telepon pun
tidak ada jawaban.
Dia mulai merasa bigung, cemas, dan gelisah. Beberapa
saat kemudian handphone nya bunyi notifikasi pesan. Lalu dia membacanya dan
kaget melihat isi pesan tersebut yang isinya adalah “mungkin ini adalah pesan
terakhir dariku, sebelumnya aku minta maaf aku gak bisa tepatin janji itu. Aku
ingin kita sudahi saja hubungan kita sampai di sini, aku merasa kita sudah
tidak cocok lagi, dan aku mulai merasa bosan dengan semuanya. Aku harap kamu
bisa mengerti”.
Setelah itu nomor HP nya sudah tidak bisa di hubungi
lagi. Beberapa hari kemudian dia mendapat kabar dari sahabatnya, bahwa dia
melihat wanitannya itu sedang dengan laki-laki lain seminggu kebelakang. Pria
itu benar-benar merasa kecewa dan sakit hati yang begitu dalam. Hingga butuh
beberapa tahun untuk bisa membuka kembali pintu hatinya dan menumbuhkan kembali
kepercayaan dirinya.
Setelah lulus kuliah, dia berencana untuk mencari lagi
wanita yang akan menjadi pendamping hidup nya. Seiring berjalannya waktu, dia
kembali menjalani hubungan baru dengan cara bertaaruf dengan seseorang meskipun
trauma dalam dirinya belum sepenuhnya hilang namun dia tetap berusaha
melawannya.
Beberapa bulan hubungan mereka berjalan baik. Pria itu
sudah berencana untuk melamarnya bulan depan dan akan melaksakan akad beberapa
bulan setelah lamaran, berita bahagia itu dia sampaikan kepada sanak
keluarganya, mereka semua terlihat bahagia mendengar kabar itu.
Namun semua rencana itu tidaklah berjalan mulus
seperti apa yang di harapkan, di pertengahan bulan sebelum hari –H. Masalah
mulai timbul, hubungan mereka berdua mulai renggang. Hingga pada akhirnya pria
itu mengetahui sesuatu tentang wanitanya itu, dia mendapat informasi bahwa
wanitanya telah menjalin komunikasi lagi dengan mantan pacarnya dulu, dan pria
itu mengajak wanitannya menikah.
Siapa yang gak marah jika ada orang yang menggangu
hubungan kita, terlebih lagi kita telah menjalin hubungan yang benar-benar
serius.
Mereka berdua bertengkar hebat karena masalah itu,
yang membuat pria itu marah adalah wanitanya malah membuat permainan, siapa
yang cepat melamar dia, dialah yang akan dia terima, membuat pria itu
benar-benar murka yang sudah jelas telah merencanakan lamaran itu.
Beberapa hari mereka lost kontak, karena pria itu
berpikir dia harus memberi ruang waktu untuk wanitanya itu. Lalu pria itu
mencoba memanggil nomor ponsel wanitanya, namun berkali-kali di tolak.
Terdengar notifikasi pesan masuk, lalu dia membuka
pesan itu yang berisi “aku ingin hunbungan kita sudahi saja sampai disini, aku
sudah jenuh. Gak ada yang bisa di harapkan lagi dari hubungan ini, dan mungkin
saja kita memang bukan jodoh”.
Pria itu hanya termenung, terdiam membisu. Dadanya
terasa begitu sesak, kakinya terasa melayang tanpa berpijak. Ini adalah hal
yang lebih menyakitkan di banding dulu. Yang menjadi beban pikirannya adalah
bukan sekedar putus hubungan, tapi dia harus menanggung beban moral terhadap
sanak keluarganya. Dia tidak tau harus menyimpan rasa malu terhadap keluarganya
dimana.
Lalu dia jatuh sakit, hampir seminggu lebih demam
tinggi bersarang dalam dirinya. Dia berusaha kuat untuk bisa pulang ke
rumahnya, karena saat itu dia sedang bekerja di luar kota, meski keadaan sedang
PANDEMI COVID-19.
Dia benar-benar depresi tentang hal itu. Demi bisa
menjalani hidup yang normal kembali dia setiap minggu harus berkonsultasi
dengan Psikiater, karena dia merasa mentalnya sedang tidak baik. Demi untuk
bertahan dalam ketidak putus asaan, hari-harinya harus di temani oleh obat-obat
anti depresi.
Dengan keadaan mentalnya seperti itu dia sadar. Dia
tidak bisa melanjutkan pekerjaannya sebagai Arsitek untuk sementara. Karena itu
bisa berdampak besar terhadap perusahaan. Lalu dia mengundurkan diri dari
pekerjaannya karena takut akan banyak merugikan perusahaan tersebut. Hidupnya
mulai berantakan, ya benar-benar berantakan.
Laki-laki yang di segani banyak orang, yang di hargai
oleh para pekerjanya, yang tahan banting oleh tekanan pekerjaan. Dia harus
tumbang oleh seorang wanita yang dia sayangi.
Sesuatu yang konyol ya, hanya karena putus cinta
semuanya jadi hancur. Ya itu menurut orang yang tidak berada dalam posisinya.
Berhentilah meng judge orang seperti itu. Setiap orang punya kapasitas
tersendiri untuk bisa menerima setiap masalahnya, dan mungkin saja itu adalah
masalah terberat baginya. Karena kalau kalian sedang berada di posisinya belum
tentu bisa sekuat dia.
Jadi
berhentilah nyinyir terhadap orang lain, dia gak butuh nyinyiran kalian, dia
hanya butuh kalian diam dan menemaninya saja sebagai support.
Ingatlah baik-baik, dalam suatu hubungan pasti ada
saja yang namanya kejenuhan. Tapi memutuskan suatu hubungan bukanlah jalan keluarnya.
Jika jari tangan kalian terluka, bukan berarti tangannya yang harus di potong,
tapi lukanya yang harus di obati.
Kejenuhan dalam suatu hubungan adalah hal yang lumrah.
Justru itulah godaan dari rumah cinta yang kalian buat. Kebahagiaan itu tidak
datang sendiri, kebahagiaan itu kita yang membuatnya.
Jodoh, rezeki, dan ajal memang sudah allah tentukan
untuk setiap makhluknya. Ajal memang telah Allah tetapkan dan itu pasti. Tapi
Jodoh dan Rezeki allah hanya memberi jalan. Menerima atau tidaknya itu
tergantung manusianya itu snediri dan jalannya itu beribu macam.
Kalian telah dipertemukan dengan pasangan kalian, maka
bersyukurlah dengan cara menjaga hubungan kalian tetap rukun. Tuhan pun marah
jika sesuatu yang telah dia berikan tidak di jaga dengan baik. Percayalah di
luar sana ada banyak orang yang meminta kepada Allah untuk segera dipertemukan
dengan belahan jiwanya. Dan masih banyak orang yang jatuh cinta, tapi jatuh
cinta sendirian.
Judul :
Jenuh
Genre :
Slice Of Life
Penulis :
Benang Kusut
Date :
Juni 2020
Listen to Podcast:
Spotify : Jenuh Bukan Alasan Untuk Berpisah (Eps.01. S1)
Apple Podcast :
Jenuh Bukan Alasan Untuk Berpisah (Eps. 01. S1)
Anchor Podcast :
Jenuh Bukan Alasan Untuk Berpisah (Eps. 01. S1)
