Setelah beberapa tahun
semenjak aku lulus SMA, sahabat-sahabat ku mengajak kumpul untuk reuni kecil
kecilan, dan mereka setuju untuk kumpul pekan ini tepatnya hari Sabtu.
sebenarnya hari itu
aku gak bisa datang karena kerja ku sedang lembur sampai malam, namun mereka
tidak keberatan untuk kumpul sepulang kerja.
pada hari-H aku sedikit terlambat
datang sekitar setengah jam, karena pada malam
itu hujan deras dan kebetulan jas hujan ku tertinggal di rumah.
sesampainya di lokasi sebenarnya aku mulai sedikit minder dan malu, mereka
menatapku dalam keadaan basah kuyup. tapi mereka tidak menertawakanku malah
menyambutku dengan hangat. salah satu dari mereka lebih jelasnya Rama, dia
sahabatku yang paling tua diantara kami memberikan handuk kecil dan menyuruhku
untuk mengeringkan rambutku, dan
adhi yang paling muda dari yang lain memberiku segelas teh hangat.
Aku tau dari dulu mereka semua
sangatlah baik hingga sampai saat inipun persahabatan kita tetap erat terjaga.
Tapi jujur saja ini pertama kalinya aku merasa tidak nyaman berada
diantara mereka. Salah satu dari mereka ada yang menyadari ketidak nyamananku “lu
kenapa gak seperti biasanya, kayak gak nyaman gitu ?” Tanya Hendra padaku. Lalu
aku bilang dengan suara sedikit pelan “aku minder dengan
kalian yang sekarang, aku tau mobil yang berjajar di parkiran itu salah satunya
mungkin adalah milik kalian, sedangkan aku datang hanya dengan menggunaka motor
biasa saja, dan aku juga merasa tidak
enak terhadap kalian, kalian menungguku sampai kerjaku selesai tapi aku malah
terakhir datang.”
Setelah aku berkata seperti itu mereka
malah tersenyum yang membuatku semakin bingung, sebenarnya mereka mengejek ku
atau apa.
“hey
sebernanya kita lah yang merasa malu terhadap kamu. Iya
yang di depan itu adalah mobil kita, aku memang kerja di perusahan besar tapi
itu adalah perusahan orang tua ku, kenyataan yang sebenarnya aku belum punya
apa-apa” kata
Rama.
Lalu
Hendra menambahkan perkataan Rama “kita semua sudah
memiliki garis nasib dan rezeki yang berbeda, ketahuilah aku merasa iri padamu.
Aku
memang punya mobil, tapi itu adalah pemberian orang tua
ku, lebih jelasnya aku iri padamu meskipun kamu cuma
punya motor tapi itu adalah hasil keringat kamu sendiri, dan sampai
sekarang aku bangga
punya sahabat yang terus berjuang bertahan hidup meski dalam kesederhanaan.”
Setelah kejadian itu aku mengerti satu
hal, sebanyak apapun harta kita jika hanya dipakai untuk gaya tidak akan ada
cukupnya, namun jika dipakai untuk kebaikan dan hidup,
sekecil apapun itu akan tetap cukup. Dan harta yang paling besar nialinya
adalah sahabat sejati.
"Apapun
yang kamu dapatkan hari ini bersyukurlah, dan cara bersyukur yang tuhan sukai
adalah menjaga sesuatu yang di titpkan-Nya padamu"
Judul :
Sahabat
Penulis : Benang Kusut
Tema : Persahabatan
Genre : Slice Of Life
Date : 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar