Pagi ini aku
mengalami hal yang membuatku malu terhadap diriku sendiri, dan membuatku
merenung sepanjang hari.
Jakarta adalah
kota besar yang sebagian penduduknya adalah pekerja, setiap pagi mereka selalu
di sibukan dengan aktivitasnya masing-masing, entah apa yang di takutinya
mereka selau berjalan tergesa-gesa berjalan kaki ataupun dengan kendaraan.
Hari ini aku
terlambat untuk berangkat ke kantor karena bangun kesiangan, bisa di sebut aku
juga sangat buru-buru untuk sampai ke tempat kerja ku. Saat aku sedang berdiri
di sebrang zebra cross menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki, tiba-tiba ada
seorag laki-laki kira-kira berumur 10 tahun dengan berpakaian seadanya dan
seorang perempuan kira-kira berumur 7 tahun di sampingnya, dan aku pikir itu
adalah adiknya, dia menggendong mungkin
peralatan pembersih sepatu pikirku. Dan ternyata benar dia adalah tukang semir
sepatu keliling, lalu dia menawarkan diri untuk membersihkan sepatuku, sebenarnya
aku tidak keberatan sepatuku di bersihkan tapi saat itu aku sedang buru-buru.
Lalu anak kecil itu berkata bahwa dia belum mendapat pelanggan satu pun dan
mereka berdua belum makan dari semalam.
Lampu hijau
untuk kendaraan pun sudah menyala, orang-orang sudah pergi namun aku masih
tetap terpaku di samping mereka berdua. Lalu aku menanyakan orang tua mereka
berdua, adik nya menjawab bahwa ayahnya sudah tiada dan ibunya sekarang sedang
sakit, aku terkejut mendengar hal itu.
mentari
semakin terasa hangat menyinari wajah dan semakin jelas terlihat kepolosan
kedua kakak beradik itu. Aku berniat memberi mereka uang dan tidak perlu
membersikan sepatuku karena aku benar-benar harus pergi. Namun perlakuan anak
itu membuatku malu dengan kedewasaan ku. dia bilang, “mohon maaf kakak saya
tidak bisa menerima uang itu karena saya belum melakukan tugas apapun, saya
akan menerima uang itu jika saya sudah melakukan pekerjaan saya untuk
membersihkan sepatu kaka”. Aku benar-benar merasa malu terhadap diriku, aku
yang telah sekolah selama 12 tahun di tambah dengan sekolah tinggi lalu
mendapatkan pekerjaan dengan tidak terlalu susah dengan gaji yang bisa
terbilang cukup, tapi aku masih saja mengeluh dengan apa yang aku dapatkan, aku
selalu merasa hidupku lebih susah dari orang lain, tapi anak itu yang
seharusnya mereka bersenang-senang menikmati indahnya sekolah mereka malah
seperti orang dewasa.
Setelah
mereka selesai membesikan sepatuku, lalu mereka pergi dan terlihat sangat
senang terlukis di senyuman polos nya. Ya memang hari ini aku terlambat sampai
ke kantor dan aku pun sedikit di tegor oleh bos ku, biasanya aku sangat marah
jika bos ngomel, tapi hari ini setelah bertemu mereka aku sadar satu hal,
“segala sesuatu apapun yang kita perbuat itulah yang akan kita dapatkan, dan
apapun yang kita dpatkan harus mensyukurinya”.
“Jika orang memarahi kita, mungkin memang benar kita yang salah,
dan rasa egois kita lah yang membuat kita merasa selalu benar”.
“Manusia di ciptakan untuk saling berbagi, saling menyayangi, dan
saling mengasihi, bukan untuk saling membenci ataupin menyakiti”
Judul : Setitik Cahaya
Tema : Nasehat, Kehidupan
Penulis : Benang Kusut
Date : 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar