Selasa, 21 Mei 2019

SETITIK CAHAYA


Pagi ini aku mengalami hal yang membuatku malu terhadap diriku sendiri, dan membuatku merenung sepanjang hari.

Jakarta adalah kota besar yang sebagian penduduknya adalah pekerja, setiap pagi mereka selalu di sibukan dengan aktivitasnya masing-masing, entah apa yang di takutinya mereka selau berjalan tergesa-gesa berjalan kaki ataupun dengan kendaraan.

Hari ini aku terlambat untuk berangkat ke kantor karena bangun kesiangan, bisa di sebut aku juga sangat buru-buru untuk sampai ke tempat kerja ku. Saat aku sedang berdiri di sebrang zebra cross menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki, tiba-tiba ada seorag laki-laki kira-kira berumur 10 tahun dengan berpakaian seadanya dan seorang perempuan kira-kira berumur 7 tahun di sampingnya, dan aku pikir itu adalah adiknya, dia  menggendong mungkin peralatan pembersih sepatu pikirku. Dan ternyata benar dia adalah tukang semir sepatu keliling, lalu dia menawarkan diri untuk membersihkan sepatuku, sebenarnya aku tidak keberatan sepatuku di bersihkan tapi saat itu aku sedang buru-buru. Lalu anak kecil itu berkata bahwa dia belum mendapat pelanggan satu pun dan mereka berdua belum makan dari semalam.

Lampu hijau untuk kendaraan pun sudah menyala, orang-orang sudah pergi namun aku masih tetap terpaku di samping mereka berdua. Lalu aku menanyakan orang tua mereka berdua, adik nya menjawab bahwa ayahnya sudah tiada dan ibunya sekarang sedang sakit, aku terkejut mendengar hal itu.

mentari semakin terasa hangat menyinari wajah dan semakin jelas terlihat kepolosan kedua kakak beradik itu. Aku berniat memberi mereka uang dan tidak perlu membersikan sepatuku karena aku benar-benar harus pergi. Namun perlakuan anak itu membuatku malu dengan kedewasaan ku. dia bilang, “mohon maaf kakak saya tidak bisa menerima uang itu karena saya belum melakukan tugas apapun, saya akan menerima uang itu jika saya sudah melakukan pekerjaan saya untuk membersihkan sepatu kaka”. Aku benar-benar merasa malu terhadap diriku, aku yang telah sekolah selama 12 tahun di tambah dengan sekolah tinggi lalu mendapatkan pekerjaan dengan tidak terlalu susah dengan gaji yang bisa terbilang cukup, tapi aku masih saja mengeluh dengan apa yang aku dapatkan, aku selalu merasa hidupku lebih susah dari orang lain, tapi anak itu yang seharusnya mereka bersenang-senang menikmati indahnya sekolah mereka malah seperti orang dewasa.

Setelah mereka selesai membesikan sepatuku, lalu mereka pergi dan terlihat sangat senang terlukis di senyuman polos nya. Ya memang hari ini aku terlambat sampai ke kantor dan aku pun sedikit di tegor oleh bos ku, biasanya aku sangat marah jika bos ngomel, tapi hari ini setelah bertemu mereka aku sadar satu hal, “segala sesuatu apapun yang kita perbuat itulah yang akan kita dapatkan, dan apapun yang kita dpatkan harus mensyukurinya”.

“Jika orang memarahi kita, mungkin memang benar kita yang salah, dan rasa egois kita lah yang membuat kita merasa selalu benar”.
“Manusia di ciptakan untuk saling berbagi, saling menyayangi, dan saling mengasihi, bukan untuk saling membenci ataupin menyakiti”


Judul               : Setitik Cahaya
Tema              : Nasehat, Kehidupan
Penulis            : Benang Kusut
Date                 : 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jenuh

Ini adalah cerita tentang seorang laki-laki yang hidupnya merasa hancur oleh seseuatu yang mungkin orang menganggapnya hal sepele. Tapi tida...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *